RUMAH di Kutu Patran RT 4 RW 14, Sinduadi, Mlati, Sleman, tersebut terlihat sederhana saja. Tapi siapa sangka jika di dalamnya tersimpan satu koleksi berharga. Sang pemilik rumah, Soebagiono Poetro, memiliki ribuan keping piringan hitam (PH).Koleksi sebanyak itu disimpan Bagio, panggilan Soebagiono Poetro, dalam satu ruangan khusus yang terletak persis di sebelah ruang tamu. Masuk ke dalamnya, segera terlihat keping-keping PH tertata rapi di dalam sejumlah rak. Sebagian lagi tersimpan di dalam laci-laci meja, sedang sisanya disusun begitu saja di atas lantai.
Dari sekian koleksinya, piringan hitam lagu-lagu Indonesia terlihat lebih banyak jumlahnya. Hal ini memang sesuai dengan tujuan awal Bagio mengoleksi piringan hitam, yakni untuk melestarikan karya cipta musisi tempo dulu. Menurutnya, sebagai bangsa yang besar sudah selayaknya Indonesia menghargai jerih payah pendahulu-pendahulunya, termasuk para pelopor musik nasional.
Selain ribuan keping PH tersebut, di ruangan itu juga terlihat 3 alat pemutar PH yang masih terawat dengan baik. Dengan alat pemutar itulah Bagio mendengarkan lagu-lagu lama dari PH yang ia koleksi.
Meski jumlah PH-nya sangat banyak, namun Bagio menolak kalau koleksinya itu dikatakan lengkap. “Masih belum bisa dibilang lengkap. Soalnya kadang ada PH yang dimiliki kolektor lain tapi saya tidak punya,” katanya dengan nada merendah.
Bagio benar-benar tidak mau menyombongkan koleksinya. Karena itu ia juga selalu mengelak ketika diminta menyebutkan berapa jumlah pasti PH yang dimilikinya. “Soal jumlah, saya tidak mau sebutkan berapa. Tapi yang jelas, kalau ada request lagu saya usahakan bisa memenuhinya,” katanya lagi.
Koleksi Bagio memang tak hanya dinikmatinya sendirian. Ia kerap menerima tamu yang khusus datang ingin mendengarkan lagu-lagu lama dari PH koleksinya. Dengan senang hati ia akan memutarkan setiap lagu yang diminta tamunya. Padahal untuk itu ia harus bersusah-payah membongkar tumpukan PH demi mencari keping yang diinginkan.
Kalau sudah asyik memutar PH, Bagio dan rekan-rekannya sering lupa waktu. “Sering kok dari sore sampai jam sebelas malam baru berhenti,” ceritanya.
Selain diperdengarkan di rumah, koleksi PH Bagio juga diputar secara rutin setiap Minggu malam di RRI Programa 1 dalam acara Tembang Kenangan. Ia sendiri yang menjadi penyiar di acara tersebut. Untuk itu seminggu sekali ia harus memboyong beberapa PH beserta satu alat pemutar PH miliknya ke studio RRI di Kotabaru.
Sisihkan Uang Jajan

Koleksi PH sebanyak itu tentu tidak dikumpulkan Bagio dalam waktu sekejap. Ia menceritakan kalau sebagian besar dari PH tersebut adalah koleksinya sendiri yang sudah ia punyai sejak masih duduk di bangku Sekolah Rakyat (SR, sekarang SD).
Kebetulan sekali Bagio kecil suka musik. Karena itu ia rajin mengikuti perkembangan musik di era itu. Begitu ada PH baru yang dirilis, Bagio segera membelinya. Terutama sekali kalau yang mengeluarkan album baru The Beatles dan Koes Plus, dua grup band favoritnya.
Khusus The Beatles dan Koes Plus, Bagio mengoleksi lengkap seluruh PH yang pernah dikeluarkan oleh kedua legenda musik tersebut. Bahkan untuk Koes Plus ia menyediakan tempat tersendiri yang terpisah dari koleksi lain. Isinya lengkap, mulai dari PH album paling pertama Koes Plus saat masih bernama Koes Bersaudara, sampai album paling terakhir.
Butuh perjuangan tersendiri bagi Bagio untuk bisa membeli PH-PH yang diinginkannya. Berhubung masih belum bekerja, Bagio kecil rela menyisihkan uang jajannya sebagai tabungan. Kalau ada PH baru yang keluar, uang di tabungan itulah yang ia ambil untuk membelinya.
Kebiasaan menyisihkan uang jajan itu ia teruskan sampai akhirnya bisa memperoleh penghasilan sendiri.
Ketika era piringan hitam berakhir dan digantikan pita kaset, Bagio tidak lantas menelantarkan koleksi PH-nya. Dengan telaten ia terus merawat setiap keping PH agar tetap bisa didengar suaranya. Secara rutin kepingan demi kepingan PH ia basuh dengan air bercampur cairan khusus pembersih PH.
“Mengoleksi PH harus telaten dan sabar. Kalau tidak telaten, PH-nya bisa cepat rusak dan tidak bisa didengarkan lagi,” kata Bagio sambil mengelap satu keping PH.
Dirikan Alamanda
Tak ingin menikmati koleksinya sendirian, Bagio mengirim surat pembaca ke satu koran lokal. Dalam surat yang dimuat pada tanggal 14 Februari 2008 itu ia mengajak sesama pecinta lagu-lagu lama di Jogja untuk bergabung dalam komunitas Alamanda (Album Lama Kenangan Anda) yang akan ia bentuk.
Respon pembaca sangat menggembirakan. Tak butuh waktu lama Bagio segera memperoleh banyak kenalan baru sesama pecinta lagu-lagu lama. Beberapa di antaranya bahkan ada yang sama-sama menjadi kolektor PH.
Setelah beberapa kali bertemu dan berbagi cerita, Bagio dan kawan-kawan kemudian sepakat mendirikan Alamanda. Komunitas khusus bagi penyuka lagu-lagu kenangan ini dideklarasikan pada tanggal 24 Februari 2008. Kini, anggotanya yang resmi terdaftar sebanyak 62 orang. Anggota termuda berusia 29 tahun.
Ada banyak kegiatan yang telah dilakukan Alamanda. Kegiatan rutinnya adalah berkumpul tiap sebulan sekali di pekan ketiga. Selain itu, Alamanda pernah berkunjung ke kediaman musisi-musisi senior seperti Gesang, Waldjinah, dan Christine di Solo. Waldjinah bahkan sempat hadir di salah satu pertemuan rutin Alamanda tahun lalu.
Tujuan didirikannya Alamanda sendiri adalah untuk melestarikan lagu-lagu kenangan yang notabene merupakan karya cipta musisi terdahulu. Bagio menuturkan, dengan cara inilah ia dan rekan-rekannya di Alamanda menghormati jasa para pelopor musik Indonesia seperti Koes Plus, Titiek Puspa, Lilies Suryani, Anita Taurisia, Waldjinah, dll.
“Banyak lagu-lagu mereka yang sudah tidak bisa ditemui lagi di pasaran saat ini. Dengan memutar PH orisinilnya, maka generasi sekarang bisa turut mengapresiasi karya cipta musisi tempo dulu,” kata Bagio.
Bagio menambahkan, koleksi PH yang ia miliki juga bisa dijadikan rujukan koreksi judul lagu. “Contohnya lagu ‘Aku Berpisah di Teras St. Carolus’ yang dinyanyikan Lilies Suryani. Orang tidak banyak tahu kalau lagu tersebut awalnya berjudul ‘Selamat Berpisah’ dan pertama kali dinyanyikan oleh Retno,” jelasnya.
Ingin mendengarkan lagu-lagu era 50-70an? Datang saja ke rumah Soebagiono Poetro. Ia dengan senang hati akan menyambut setiap penyuka lagu kenangan yang datang ke rumahnya. (eda)
Catatan: Liputan ini pernah dimuat di Harian Jogja edisi Minggu, 19 April 2009.



0 komentar:
Poskan Komentar