UangLama.com, Toko Online Uang Lama Indonesia.

05 Februari 2010

| | 0 komentar | Read More

Soebagiono Poetro, Kolektor Piringan Hitam

RUMAH di Kutu Patran RT 4 RW 14, Sinduadi, Mlati, Sleman, tersebut terlihat sederhana saja. Tapi siapa sangka jika di dalamnya tersimpan satu koleksi berharga. Sang pemilik rumah, Soebagiono Poetro, memiliki ribuan keping piringan hitam (PH).

Koleksi sebanyak itu disimpan Bagio, panggilan Soebagiono Poetro, dalam satu ruangan khusus yang terletak persis di sebelah ruang tamu. Masuk ke dalamnya, segera terlihat keping-keping PH tertata rapi di dalam sejumlah rak. Sebagian lagi tersimpan di dalam laci-laci meja, sedang sisanya disusun begitu saja di atas lantai.

Dari sekian koleksinya, piringan hitam lagu-lagu Indonesia terlihat lebih banyak jumlahnya. Hal ini memang sesuai dengan tujuan awal Bagio mengoleksi piringan hitam, yakni untuk melestarikan karya cipta musisi tempo dulu. Menurutnya, sebagai bangsa yang besar sudah selayaknya Indonesia menghargai jerih payah pendahulu-pendahulunya, termasuk para pelopor musik nasional.

Selain ribuan keping PH tersebut, di ruangan itu juga terlihat 3 alat pemutar PH yang masih terawat dengan baik. Dengan alat pemutar itulah Bagio mendengarkan lagu-lagu lama dari PH yang ia koleksi.

Meski jumlah PH-nya sangat banyak, namun Bagio menolak kalau koleksinya itu dikatakan lengkap. “Masih belum bisa dibilang lengkap. Soalnya kadang ada PH yang dimiliki kolektor lain tapi saya tidak punya,” katanya dengan nada merendah.
Bagio benar-benar tidak mau menyombongkan koleksinya. Karena itu ia juga selalu mengelak ketika diminta menyebutkan berapa jumlah pasti PH yang dimilikinya. “Soal jumlah, saya tidak mau sebutkan berapa. Tapi yang jelas, kalau ada request lagu saya usahakan bisa memenuhinya,” katanya lagi.

Koleksi Bagio memang tak hanya dinikmatinya sendirian. Ia kerap menerima tamu yang khusus datang ingin mendengarkan lagu-lagu lama dari PH koleksinya. Dengan senang hati ia akan memutarkan setiap lagu yang diminta tamunya. Padahal untuk itu ia harus bersusah-payah membongkar tumpukan PH demi mencari keping yang diinginkan.
Kalau sudah asyik memutar PH, Bagio dan rekan-rekannya sering lupa waktu. “Sering kok dari sore sampai jam sebelas malam baru berhenti,” ceritanya.

Selain diperdengarkan di rumah, koleksi PH Bagio juga diputar secara rutin setiap Minggu malam di RRI Programa 1 dalam acara Tembang Kenangan. Ia sendiri yang menjadi penyiar di acara tersebut. Untuk itu seminggu sekali ia harus memboyong beberapa PH beserta satu alat pemutar PH miliknya ke studio RRI di Kotabaru.

Sisihkan Uang Jajan
Koleksi PH sebanyak itu tentu tidak dikumpulkan Bagio dalam waktu sekejap. Ia menceritakan kalau sebagian besar dari PH tersebut adalah koleksinya sendiri yang sudah ia punyai sejak masih duduk di bangku Sekolah Rakyat (SR, sekarang SD).

Kebetulan sekali Bagio kecil suka musik. Karena itu ia rajin mengikuti perkembangan musik di era itu. Begitu ada PH baru yang dirilis, Bagio segera membelinya. Terutama sekali kalau yang mengeluarkan album baru The Beatles dan Koes Plus, dua grup band favoritnya.

Khusus The Beatles dan Koes Plus, Bagio mengoleksi lengkap seluruh PH yang pernah dikeluarkan oleh kedua legenda musik tersebut. Bahkan untuk Koes Plus ia menyediakan tempat tersendiri yang terpisah dari koleksi lain. Isinya lengkap, mulai dari PH album paling pertama Koes Plus saat masih bernama Koes Bersaudara, sampai album paling terakhir.

Butuh perjuangan tersendiri bagi Bagio untuk bisa membeli PH-PH yang diinginkannya. Berhubung masih belum bekerja, Bagio kecil rela menyisihkan uang jajannya sebagai tabungan. Kalau ada PH baru yang keluar, uang di tabungan itulah yang ia ambil untuk membelinya.

Kebiasaan menyisihkan uang jajan itu ia teruskan sampai akhirnya bisa memperoleh penghasilan sendiri.

Ketika era piringan hitam berakhir dan digantikan pita kaset, Bagio tidak lantas menelantarkan koleksi PH-nya. Dengan telaten ia terus merawat setiap keping PH agar tetap bisa didengar suaranya. Secara rutin kepingan demi kepingan PH ia basuh dengan air bercampur cairan khusus pembersih PH.

“Mengoleksi PH harus telaten dan sabar. Kalau tidak telaten, PH-nya bisa cepat rusak dan tidak bisa didengarkan lagi,” kata Bagio sambil mengelap satu keping PH.

Dirikan Alamanda
Tak ingin menikmati koleksinya sendirian, Bagio mengirim surat pembaca ke satu koran lokal. Dalam surat yang dimuat pada tanggal 14 Februari 2008 itu ia mengajak sesama pecinta lagu-lagu lama di Jogja untuk bergabung dalam komunitas Alamanda (Album Lama Kenangan Anda) yang akan ia bentuk.

Respon pembaca sangat menggembirakan. Tak butuh waktu lama Bagio segera memperoleh banyak kenalan baru sesama pecinta lagu-lagu lama. Beberapa di antaranya bahkan ada yang sama-sama menjadi kolektor PH.

Setelah beberapa kali bertemu dan berbagi cerita, Bagio dan kawan-kawan kemudian sepakat mendirikan Alamanda. Komunitas khusus bagi penyuka lagu-lagu kenangan ini dideklarasikan pada tanggal 24 Februari 2008. Kini, anggotanya yang resmi terdaftar sebanyak 62 orang. Anggota termuda berusia 29 tahun.

Ada banyak kegiatan yang telah dilakukan Alamanda. Kegiatan rutinnya adalah berkumpul tiap sebulan sekali di pekan ketiga. Selain itu, Alamanda pernah berkunjung ke kediaman musisi-musisi senior seperti Gesang, Waldjinah, dan Christine di Solo. Waldjinah bahkan sempat hadir di salah satu pertemuan rutin Alamanda tahun lalu.

Tujuan didirikannya Alamanda sendiri adalah untuk melestarikan lagu-lagu kenangan yang notabene merupakan karya cipta musisi terdahulu. Bagio menuturkan, dengan cara inilah ia dan rekan-rekannya di Alamanda menghormati jasa para pelopor musik Indonesia seperti Koes Plus, Titiek Puspa, Lilies Suryani, Anita Taurisia, Waldjinah, dll.

“Banyak lagu-lagu mereka yang sudah tidak bisa ditemui lagi di pasaran saat ini. Dengan memutar PH orisinilnya, maka generasi sekarang bisa turut mengapresiasi karya cipta musisi tempo dulu,” kata Bagio.

Bagio menambahkan, koleksi PH yang ia miliki juga bisa dijadikan rujukan koreksi judul lagu. “Contohnya lagu ‘Aku Berpisah di Teras St. Carolus’ yang dinyanyikan Lilies Suryani. Orang tidak banyak tahu kalau lagu tersebut awalnya berjudul ‘Selamat Berpisah’ dan pertama kali dinyanyikan oleh Retno,” jelasnya.

Ingin mendengarkan lagu-lagu era 50-70an? Datang saja ke rumah Soebagiono Poetro. Ia dengan senang hati akan menyambut setiap penyuka lagu kenangan yang datang ke rumahnya. (eda)

Catatan: Liputan ini pernah dimuat di Harian Jogja edisi Minggu, 19 April 2009.

28 Januari 2010

| | 0 komentar | Read More

Wedang Uwuh Imogiri, Hidangan Nikmat nan Berkhasiat

RASA nikmat dan segar langsung terasa sesaat setelah merasakan minuman wedang uwuh di tempat parkir makam raja-raja Mataram di Imogiri. Tak hanya nikmat, minuman ini juga sangat berkhasiat tinggi. Di antaranya dapat membuat tubuh kembali segar dan meningkatkan ketahanan tubuh saat beraktivitas.

Wedang uwuh bukanlah minuman mengandung zat kimia, melainkan hidangan yang bahan-bahannya diambil dari dedaunan kering di sekitar makam Kanjeng Prabu Sultan Agung Hanyokrokusumo dan makam-makam lainnya di kompleks Imogiri. Campuran untuk membuat wedang uwuh adalah kayu secang, daun pala, daun kayu manis, daun cengkeh, jahe dan ditambah gula.

“Ramuan aslinya hanya jahe, daun pala, daun kayu manis, dan daun cengkeh plus gula. Tapi kemudian kami kreasikan sendiri dengan menambah kayu secang,” demikian jelas Windarno, penjual wedang uwuh di tempat parkir makam Imogiri, kepada Jogjapolitan.com di kios tempatnya berjualan.

“Kayu secang inilah yang membuat warna wedang uwuh jadi merah,” kata Windarno lagi. “Kalau tidak pakai secang, gula yang dipakai gula jawa. Tapi kalau memakai secang, maka gulanya gula batu,” tambahnya.

Menurut cerita Windarno, wedang uwuh saat ini bisa dibedakan jadi dua macam. Yakni wedhang uwuh yang bahan-bahannya diambil langsung dari lokasi makam Imogiri seperti yang ia jual di kiosnya, dan yang satu lagi bahan-bahannya dari luar makam Imogiri. Komposisi bahannya sama persis, namun yang membedakan adalah dari mana dedaunannya diambil.

Ramuan wedang uwuh yang banyak dijual di pasar-pasar biasanya berbahan baku dedaunan dari luar lokasi makam. Karena itu harganyapun jauh lebih murah dibanding yang berbahan baku dedaunan makam.

“Rasanya juga beda koq, Mas. Wedang yang bahannya dari lokasi makam rasanya lebih segar,” kata Windarno. Ia menambahkan kalau di kawasan Imogiri hanya dia saja yang menjual wedang uwuh berbahan dedaunan asli dari makam.

“Almarhum ayah saya dulu abdi dalem yang bertugas di makam. Jadi untuk memperoleh daun-daun dari makam lebih mudah,” cerita Windarno yang menjadi pionir berjualan wedang uwuh secara masal. Windarno juga yang pertama kali mempunyai ide membungkusi ramuan wedang uwuh dalam kemasan plastik.

Sejak Jaman Sultan Agung
Wedang uwuh adalah minuman rakyat yang telah dikenal sejak masa Sultan Agung. Windarno menceritakan, setelah berhasil menyerang VOC di Batavia pada tahun 1628, Sultan Agung mulai membangun kompleks makam Imogiri setahun kemudian. Sultan Agung lantas menanam sebatang pohon cengkeh yang diberi nama Kyai Dudo. Dari pohon inilah daun cengkeh yang menjadi bahan wedang uwuh diperoleh.

Tidak diketahui secara pasti siapa yang pertama kali membuat ramuan wedang uwuh. Namun yang jelas minuman ini mulai diperkenalkan secara luas oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Sebelum masa Sri Sultan HB IX wedang uwuh hanya khusus dihidangkan untuk tamu-tamu kraton yang datang melayat ke Imogiri. Itupun hanya bisa didapatkan di masjid Imogiri saja.

Windarno adalah orang pertama yang berjualan wedang uwuh kemasan. Awalnya ia berjualan di sebelah timur makam Sri Sultan HB IX, tepatnya di sebelah luar gerbang timur makam. Mulai tahun 1997 ia berjualan di bawah, di tempat parkir.

Kini di lokasi tersebut telah dibangun area khusus bagi para pedagang. Windarno mengambil dua blok, dengan ongkos sewa Rp 200.00,- pertahun. Tapi ia tak hanya berjualan wedang uwuh. Di belakang blok tempatnya berjualan ditambahi sebuah toko bahan pangan dan kebutuhan hidup sehari-hari. Dengan penghasilan yang didapatkannya dari berjualan di kios tersebut, ia mampu menghidupi istri juga 2 anaknya yang telah beranjak dewasa.

Bagi Windarno berjualan wedang uwuh tak hanya berdagang saja, tapi juga turut melestarikan warisan nenek moyang. Karena itu ia selalu berusaha untuk menjaga mutu serta keaslian rasa wedang uwuh. Keaslian rasa wedang uwuh mampu menciptakan suasana yang khas, aromanya pun kental akan nuansa spiritual. Tak heran bila wedang uwuh selalu membuat penasaran pembelinya. (ted/eda)

Catatan: Liputan ini pernah dimuat di mingguan Malioboro Ekspres edisi 16, Februari 2009.

21 Januari 2010

| | 0 komentar | Read More

Jadi Saudara karena Koes Plus

HARI sedang terik-teriknya Kamis (26/3) itu, tapi puluhan orang yang berkumpul di Waroeng Nusantara justru semakin asyik berjoget mengikuti irama lagu yang dibawakan band di atas panggung. Tak peduli keringat yang membanjiri tubuh mereka, komunitas yang menamakan dirinya sebagai Jogja Koes Plus Community (JKPC) itu terus bergoyang sembari turut berdendang.

Berangkat dari kesamaan menyukai lagu-lagu Koes Plus, Ki Sunarno, Wowo Sastro Nugroho, Brustam, Burhan, Slamet Riyadi, dan Agus Rakasiwi sepakat mendirikan JKPC pada tanggal 31 Oktober 2004. Pendirian tersebut diumumkan lewat sebuah radio swasta.

Koes Plus yang sempat bernama Koes Bersaudara adalah band legendaris Indonesia yang digawangi oleh Koeswoyo bersaudara. Lagu easy listening dengan lirik sederhana namun memiliki pesan yang dalam merupakan ciri khas Koes Plus. Tak heran jika band ini amat digemari publik di era 70-an. Masa berganti, band-band baru bermunculan di blantika musik Indonesia, namun lagu-lagu Koes Plus tetap hidup. Adalah para penggemar setianya yang terus melestarikan tembang-tembang idolanya itu.

“Dulu saya hanya ikut milis-milis pecinta Koes Plus di internet. Masih sendiri-sendiri, belum kenal yang lain. Atas rekomendasi seorang pecinta Koes Plus di Solo, akhirnya ketemu sama yang lain,” demikian cerita Agus soal awal mula pendirian JKPC.

Dari milis tersebut Agus kemudian berkenalan dengan sesama pecinta Koes Plus di Jogja. Di antaranya Ki Sunarno, Slamet Riyanto, Wowo Nugroho, juga Sutrisni Dewanthi, Brustam, Nur Mei Hadi alias Djoemali, Burhanuddin, dan beberapa rekan lainnya.

“Kami dulu sering ketemu waktu mencari kaset di toko loak. Dari situ bertukar nomor handphone, alamat rumah, dan akhirnya sering ketemu,” tambah Ki Sunarno.
Awalnya mereka hanya kumpul-kumpul saling mendengarkan koleksi lagu-lagu Koes Plus yang dipunyai. Lama-lama mereka merasa perlu membuat sebuah komunitas khusus yang mewadahi seluruh pecinta Koes Plus di Jogja. Maka terbentuklah JKPC. Nama JKPC sendiri merupakan usulan dari Agus.

Dari hanya beranggotakan tak sampai 10 orang di awal pendiriannya, kini JKPC sudah memiliki sekitar 99 anggota aktif. “Itu yang tercatat lho, Mas. Kalau menghitung yang belum terdaftar jumlahnya bisa lebih banyak lagi,” kata Mbak Trish, panggilan akrab Sutrisni Dewanthi.

Tak Sekedar Komunitas
Hal itu dibenarkan Slamet. Ia menambahkan, JKPC juga menjalin kemitraan dengan band-band pelestari lagu-lagu Koes Plus. Caranya dengan memberikan kesempatan pada band-band pelestari untuk tampil di acara-acara yang diadakan JKPC. Sejak berdiri, JKPC sudah menampilkan lebih dari 380 kali pertunjukan band-band pelestari di seputaran Jogja. Bahkan tak jarang JKPC menjadi tempat jujugan dan dimintai solusi bila ada band yang sedang tersandung masalah.

Untuk menjalin keakraban antar sesama anggota, JKPC turut mengoordinir acara malam Koes Plus secara rutin. Seperti di Purawisata yang menampilkan band-band pelestari Koes Plus setiap Jumat malam. Pada hari-hari tertentu digelar acara peringatan dengan mengundang bintang tamu dari luar Jogja. Contohnya saat peringatan hari kelahiran Tony Koeswoyo bulan Januari lalu. Selain menampilkan band pelestari kondang Jogja, Hoss Band, JKPC juga mendatangkan B Plus, band pelestari asal Jakarta yang sudah sangat terkenal di kalangan penggemar Koes Plus.

“Yang biasa diperingati itu hari kelahirannya Mas Tony setiap bulan Januari, dan hari kematiannya setiap Maret. Jadi setahun dua kali,” jelas Wowo. Menurutnya hal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap Tony Koeswoyo yang merupakan nyawa utama Koes Plus. Dari tangan Tony-lah tembang-tembang andalan Koes Plus lahir. Selain itu Tony juga yang mengaransemen hampir keseluruhan lagu di album-album Koes Plus.

Di luar itu, JKPC kerap mengadakan acara kunjungan ke luar kota. Tentu saja masih ada hubungannya dengan Koes Plus. Seperti misalnya menghadiri peringatan ulang tahun Murry, mantan drummer Koes Plus, yang ke-59 di Ciawi bulan Maret 2008 lalu. Kemudian mengunjungi para personil Koes Plus di rumah mereka yang terletak di kompleks perumahan Koes Bersaudara, Jl. H. Nawi, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Solidaritas antar anggota ditunjukkan dengan cara membantu sesama anggota yang sedang ditimpa musibah. Seperti baru terjadi belum lama ini. Begitu mendengar salah seorang rekan sesama anggota JKPC sakit, anggota yang lain ramai-ramai memberikan sumbangan untuk membantu meringankan biaya pengobatan.

Induk Koes Plus Mania
Sebenarnya ada banyak komunitas pecinta Koes Plus di Jogja. Tapi komunitas-komunitas tersebut scope-nya lebih kecil, hanya di tingkat kelurahan atau kecamatan. Contohnya BR Plus yang menyatukan para pecinta Koes Plus di sekitaran Beran, atau Plumbon Koes Plus Community (PKPC) untuk warga Plumbon, dan Temon Plus yang mewadahi pecinta-pecinta Koes Plus di Temon, Kulonprogo.

Menurut catatan JKPC, saat ini ada 22 komunitas pecinta Koes Plus di Jogja. “Komunitas pecinta Koes Plus sudah tersebar di seluruh wilayah Jogja, kecuali Gunungkidul,” kata Slamet. “Sampai saat ini hanya Gunungkidul yang masih belum tergarap,” tambahnya lagi.

Seperti halnya JKPC, masing-masing komunitas tersebut memiliki pengurus sendiri-sendiri. Namun semuanya sepakat untuk menginduk pada JKPC sebagai koordinator Koes Plus mania se-Jogja. Karena itu, proses pemilihan pengurus JKPC selalu melibatkan komunitas-komunitas yang ada. Seperti yang terjadi pada Kamis (26/3) pekan lalu di Waroeng Nusantara. Perwakilan 17 komunitas bersama dengan utusan dari band-band pelestari, tempat-tempat penyelenggara acara koesplusan, pemerhati, dan kolektor memilih ketua baru JKPC untuk periode 2009-2012.

Dalam pemilihan tersebut, Sutrisni Dewanthi akhirnya terpilih sebagai ketua baru JKPC. Mbak Trish memperoleh dukungan sebanyak 41 suara dari total 53 pemilih. Ia mengalahkan dua pesaingnya, masing-masing Nur Mei Hadi alias Djoemali yang mengantongi 11 suara, dan satu calon lain (Muladi) yang sama sekali tidak memperoleh suara.

Setelah terpilih, Sutrisni mengatakan ia berkeinginan menjadikan JKPC sebagai komunitas yang hidup. JKPC harus menjadi motor dalam upaya pelestarian lagu-lagu Koes Plus di Jogja. “Kalau perlu kita jadikan Jogja ini sebagai kotanya Koes Plus,” demikian katanya di akhir sambutan sesaat setelah terpilih. Ajakan tersebut disambut dengan penuh semangat oleh para Koes Plus mania.

Pada kesempatan terpisah, Mbak Trish kepada Jogjapolitan.com mengatakan banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan pengurus JKPC saat ini. Tantangan terberat adalah mempertahankan identitas Jogja yang sudah dikenal sebagai kotanya Koes Plus di kalangan para penggemar. Untuk itu, ia butuh tim yang solid dan enerjik agar dapat mengemban tugas berat tersebut.

Anda penggemar Koes Plus? Mbak Trish mengundang seluruh penggemar Koes Plus di Jogja untuk datang ke posko JKPC yang terletak di Jl. Ibu Ruswo No. 25. (eda)

Catatan: Liputan ini pernah dimuat di Harian Jogja edisi Minggu, 12 April 2009.
Foto oleh: Eko Nurhuda


14 Januari 2010

| | 0 komentar | Read More

Shelter Vredeburg Rusak Parah

JOGJA (J) – Belum genap setahun beroperasi, beberapa shelter bis TransJogja sudah mulai rusak. Kondisi paling parah ditemui di shelter Benteng Vredeburg. Sungguh ironis, mengingat shelter tersebut terletak di Jl. Ahmad Yani yang terletak tepat di jantung kota dan merupakan jalan utama di Jogja.

Seperti yang dilihat Jogjapolitan.com belum lama ini, beberapa bagian shelter Benteng Vredeburg sudah tidak lengkap lagi. Kaca nako di bagian depan banyak yang tidak ada. Dinding kaca besar di belakang tempat duduk calon penumpang bis juga tampak bolong besar dan hanya ditutupi plastik ala kadarnya.

“Dinding kaca itu sudah pecah sejak pertama di-launching dulu,” demikian tutur Adi yang sedang bertugas jaga pada Jogjapolitan.com. Ia menambahkan kaca tersebut pecah karena dilempar batu oleh kru bus kota yang tidak senang dengan kehadiran TransJogja.

Menurut cerita Adi, peristiwa pelemparan tersebut terjadi sewaktu sejumlah kru bis kota mengadakan demo menentang diresmikannya bis TransJogja. Seorang kru bis kota yang lewat di depan shelter tersebut melemparkan batu besar sehingga memecahkan dinding kaca.

“Kalau kaca (nako) yang depan itu sengaja saya lepas,” kata Adi. Ia menambahkan kaca-kaca nako tersebut hanya direkatkan dengan lem. Begitu terkena panas dan hujan daya rekat lem berkurang sehingga mudah lepas. “Setiap disenderi penumpang kacanya melorot. Daripada jatuh dan pecah mending saya ambil saja,” imbuhnya lagi.

Selain dua kerusakan tersebut, satu lampu shelter juga tidak menyala. Akibatnya suasana shelter jadi lebih temaram di malam hari. Adi mengatakan pihaknya sudah mengajukan laporan mengenai kerusakan di shelter tersebut pada dinas terkait. “Sudah lama sekali koq. Tapi sampai sekarang masih belum diperbaiki juga,” tambahnya. (eko nurhuda/m-4)

Catatan: Liputan ini pernah dimuat di mingguan Malioboro Ekspres edisi 16, Februari 2009.

07 Januari 2010

| | 0 komentar | Read More

Kalau Pengantin Naik Sepeda...

SEPASANG muda-mudi tersebut tampak sumringah di antara puluhan orang yang berkumpul di Taman Parkir Abu Bakar Ali, Minggu (12/4) sore itu. Mereka, Johan Sanjaya (27) dan Kate (26), memang sedang bergembira. Hari itu keduanya merayakan pernikahan mereka dengan cara unik, pawai keliling kota Jogja dengan sepeda onthel.

Johan dan Kate tidak hanya berdua. Orang tua mereka juga turut hadir bersama puluhan anggota Paguyuban Onthel Jogja (Podjok), sebuah komunitas penghobi sepeda. Dengan dikawal dua personil Polisi, rombongan pengantin bersepeda itu menyusuri rute sepanjang sekitar 5 km dari Jl. Malioboro sampai Wirosaban.

Orang-orang yang berada di sepanjang perjalanan tidak menyangka kalau pawai sepeda itu rombongan pengantin. Wajar saja, pasalnya tidak ada tanda khusus yang memperlihatkan identitas pengantin baru.

Sebagian anggota rombongan mengenakan pakaian bernuansa tempo dulu. Yang pria berkemeja putih dipadu celana panjang putih lengkap dengan topi bulat ala pembesar-pembesar jaman kolonial Belanda, sementara yang wanita memakai kebaya. Sebagian peserta rombongan bercelana jeans dipadu kaos oblong. Bahkan kedua mempelai cuma bercelana pendek dan memakai kaos oblong.

Kalau saja tidak ada papan kecil bertuliskan “Just Married” yang dipasang di batang kemudi sepeda Johan, orang tidak akan tahu pawai tersebut adalah rombongan pengantin.

Mengenang Masa Lalu
Acara bertajuk “Sawung Jabo Mantu dengan Onthel” ini merupakan ide pasangan Gono dan Tutik dari komunitas Podjok. Sesuai namanya, hari itu Sawung Jabo memang sedang mantu. Johan anaknya mempersunting Kate, seorang gadis Australia tulen.
Menurut Sawung, dipilihnya Jogja sebagai tempat diadakannya pawai pengantin bersepeda ini adalah untuk mengenang nostalgia antara dirinya dan Susan Piper, sang isteri tercinta. Masa itu Jogja masih dikenal sebagai kota sepeda. Masa di mana jalan-jalan Jogja masih dipenuhi orang-orang bersepeda. Di masa itulah keduanya bertemu.

Sawung dan Susan bertemu di tahun 1978. Waktu itu keduanya sama-sama aktif di Bengkel Teater binaan WS Rendra. Susan masih berstatus mahasiswi yang sedang mempelajari kebudayaan Jawa di keraton. Sedangkan Sawung aktif bermain musik dan teater. Hanya setahun setelah itu keduanya memutuskan untuk menikah.

Alasan lain, Jogja adalah kota tempat Sawung Jabo mulai meniti karir. “Di kota inilah saya mulai berkarya, dan tempat saya mengalami kebangkitan dalam bermusik,” kata Sawung kepada wartawan saat rombongan berhenti sejenak di depan keraton.
Ketika ditanya alasannya memilih pawai bersepeda, sambil tertawa lelaki bernama asli Mochamad Djohansyah ini mengatakan, “Acara seperti ini kan tidak perlu biaya banyak, tapi tepat sasaran.”

Cerita Sawung dibenarkan Susan. Kepada Jogjapolitan.com ia berkata bahwa Jogja merupakan kota bersejarah baginya dan suami. Ada banyak kenangan yang ia alami di Jogja. Meski sekarang tinggal di Sydney, Australia, namun kenangan-kenangan tersebut masih melekat. Karena itulah, ketika ada usulan untuk mengadakan resepsi pernikahan anaknya di Jogja, Susan langsung mengiyakan.

“Konsepnya sederhana, tapi unik sekali,” demikian ujar Susan menanggapi acara sore itu.

Teman SMA
Diarak keliling kota dengan sepeda tentunya menjadi pengalaman mengesankan bagi Kate. Ketika dimintai komentarnya, gadis bermata biru ini berkata sambil tersenyum renyah, “I'm really happy. It's very exciting.

Lebih lanjut Kate bercerita tentang kisah cintanya dengan Johan. Keduanya adalah teman satu SMA. Namun keduanya belum menjalin cinta saat masih sama-sama sekolah. “Nothing special,” ujar Kate sambil melirik Johan ketika menceritakan masa-masa awal pertemuannya dengan sang suami.

Namun diam-diam mereka rupanya sama-sama menyimpan perasaan tertentu. Saat liburan bersama di Jepang dipilih Johan sebagai waktu yang tepat untuk meminang Kate. Pucuk dicinta ulam tiba, Kate menerima lamaran Johan. Keduanyapun lantas mengikat janji sehidup-semati.

Pawai bersepeda keliling kota Jogja, Minggu (12/4), lalu merupakan rangkaian terakhir dari perayaan pernikahan Johan dan Kate. “Akad nikahnya sudah di Bali,” cerita Susan. Dari Bali, acara lalu dilanjutkan dengan sebuah resepsi di Surabaya, tempat kelahiran Sawung Jabo. Dan terakhir dipilihlah Jogja sebagai kota pamungkas.

Sambil berseloroh, Susan mengatakan kalau ada seorang temannya yang menyebut acara pernikahan Johan dan Kate dengan istilah 'rabi tour'. “Pernikahan tiga kota, seperti tur saja,” kata dosen Bahasa Indonesia di beberapa universitas di Ausralia ini sambil tertawa lepas. (eda)

Catatan: Liputan ini pernah dimuat di Harian Jogja edisi Senin, 13 April 2009.