UangLama.com, Toko Online Uang Lama Indonesia.

19 Maret 2010

| | 0 komentar | Read More

Jogja National Museum

PRIHATIN melihat bekas gedung Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) terbengkalai, KPH Wironegoro tergerak untuk memanfaatkannya. Melalui Yayasan Yogyakarta Seni Nusantara yang ia pimpin, menantu Sri Sultan Hamengku Buwono X ini lantas mendirikan sebuah museum seni rupa kontemporer bernama Jogja National Museum (JNM).

Alasannya mendirikan museum seni sederhana saja. “Jogja kan kaya akan potensi seni dan budayanya. Kesenian kontemporer sendiri tumbuh subur di sini, dan seniman-senimannya punya reputasi tak hanya nasional tapi juga internasional,” jelas KPH Wironegoro saat ditemui Jogjapolitan.com di JNM, Kamis (14/5) lalu.

Alasan lain, komplek bangunan ASRI memiliki nilai historis bagi perkembangan seni di Indonesia. Di tempat yang merupakan cikal-bakal Institut Seni Indonesia (ISI) inilah seniman-seniman besar Indonesia seperti Heri Dono, Butet Kertaredjasa, Jaduk Ferianto, Hanafi, atau Widayat pernah menuntut ilmu.

Yang tak kalah penting, menurut KPH Wironegoro, pertumbuhan seniman baik dari ISI ataupun akademi seni yang lain cukup banyak. Sayangnya, hal tersebut tidak dibarengi dengan adanya sebuah institusi seperti museum di mana para seniman dapat memamerkan karyanya kepada publik.

Ditambahkan KPH Wironegoro, selama ini seni rupa kontemporer adalah sebuah dunia yang eksklusif. Seniman dan karyanya hanya dikenal oleh komunitasnya sendiri. Akibatnya masyarakat Jogja banyak yang tidak tahu kalau di kotanya tinggal seniman-seniman besar bertaraf internasional.

Dengan tujuan lebih memasyarakatkan seni rupa kontemporer itulah JNM didirikan. Kegiatan renovasi gedung mulai dilakukan awal 2006. Namun pembangunan sempat terhenti akibat gempa bumi 27 Mei 2006 lalu. Pembangunan kembali dilanjutkan awal tahun 2007 dengan menggandeng beberapa perusahaan swasta sebagai sponsor.

Menghidupkan Museum
Lebih lanjut, KPH Wironegoro menyebutkan kalau selama ini museum belum menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jogja. Bahkan masih ada keengganan untuk mengunjungi museum. Hal ini membuat perkembangan seni menjadi terbatas hanya diketahui oleh komunitas seni itu sendiri.

“Museum sudah dapat konotasi yang tidak baik di Indonesia. Museum as only gudang penyimpanan karya-karya. Tidak pernah ditampilkan ulang, diceritakan ulang, dirawat ulang, sehingga orang datang ke museum itu bawaannya sudah boring,” jelas suami GKR Pembayun ini.

Atas dasar itulah JNM dibangun sebagai sebuah museum publik di mana semua orang dari segala kalangan masyarakat bisa datang untuk mengapresiasi karya-karya yang dipamerkan.

Hal terberat yang harus dilakukan bagi pengelola JNM adalah bagaimana membuat museum diminati masyarakat. Karena itu JNM tak hanya difungsikan sebagai galeri seni, tapi juga sebagai ruang publik tempat masyarakat umum dapat menghabiskan waktu senggang untuk berlibur bersama keluarga.

“Yang penting membuat masyarakat mau mengunjungi museum dulu,” kata KPH Wironegoro soal visinya menghidupkan museum sebagaimana di negara-negara Eropa.

Untuk menarik minat pengunjung, pengelola JNM mengakalinya dengan cara menyediakan fasilitas publik. Selain art shop, di komplek seluas 1,4 ha. tersebut juga terdapat kantin yang dilengkapi dengan hostspot area di mana masyarakat dapat mengakses internet secara gratis.

Pusat Seni Kontemporer
Sejak awal, JNM dikonsep sebagai sebuah pusat kegiatan seni kontemporer di Jogja. Salah satunya dengan mengadakan pameran-pameran yang digelar secara rutin. Selain itu, ke depan JNM akan dilengkapi dengan beberapa fasilitas yang dapat mendukung perkembangan seni rupa kontemporer.

Contohnya studio residensi seniman yang sedang dalam proses pengerjaan. Studio residensi ini kelak akan menjadi tempat tinggal seniman yang ingin berkarya di Jogja. Fasilitas lain yang akan dibangun adalah perpustakaan seniman, music shop, mess seniman, coffee shop, dan toko material seni rupa.

“Kita juga akan membuat RJ Katamsi Room sebagai penghargaan terhadap jasa-jasa RJ Katamsi terhadap pertumbuhan seni rupa di Jogja,” kata Eka Esti Susanti, staf marketing JNM saat menemani Jogjapolitan.com mengelilingi komplek museum tersebut.

Sejumlah pameran berskala besar pernah digelar JNM. Seperti Biennale Jogja 2007, atau pameran gabungan seniman Indonesia dengan seniman Jepang bertajuk KITA! yang diadakan sepanjang April-Mei 2008 lalu.

Agenda pameran mendatang tak kalah menarik. Bulan Juli nanti JNM akan menggelar pameran tunggal karya-karya Agus Suwage dalam rangka memperingati 50 tahun usia seniman besar tersebut. Setelah itu ada pameran tunggal Irenius Bongki dan Nasirun yang masing-masing akan digelar pada September dan Desember mendatang. (eda)

Catatan: Liputan ini pernah dimuat di Harian Jogja edisi Minggu, 7 Juni 2009.

12 Maret 2010

| | 0 komentar | Read More

Olahraga Sambil Berwisata Alam

APA yang terbayang dalam benak Anda ketika mendengar kata ‘jeep’ dan ‘trail’? Kebanyakan orang pasti langsung teringat pada satu olahraga ekstrim di medan offroad yang terjal. Tapi hal tersebut tidak berlaku bagi Jeep Trail Blusukan (Jtrab).

Komunitas pengguna jeep dan motor trail ini boleh dibilang lain dari yang lain. Bila kebanyakan rider trail suka menantang bahaya di medan-medan mematikan, anggota Jeep Trail Blusukan atau Jtrab lebih memilih ‘rute biasa’ alias bukan offroad.

Menurut Leo, salah seorang member Jtrab yang ikut berbincang-bincang dengan Jogjapolitan.com di posko Jtrab di Mrican Baru, Rabu (13/5) malam lalu, di setiap acara touring biasanya disediakan dua rute. Rute offroad untuk rider penyuka rintangan-rintangan ekstrim, dan rute biasa untuk rider yang lebih memilih have fun.

“Rute offroad tandanya gambar panah. Kalau yang biasa tandanya gambar (maaf) pantat cewek,” kata Leo sambil tertawa.

Terbentuknya Jtrab berawal dari bengkel jeep milik Januar yang kini menjadi ketua komunitas ini. Di bengkel itulah para pemilik jeep sering berkumpul dan saling bertukar pikiran. Dari hanya kumpul-kumpul, lama-kelamaan mereka punya ide untuk membentuk komunitas pengguna jeep dan trail. Maka dibentuklah Jtrab.

“Dulu pertama nama klubnya Jogja Trail Blusukan,” kata Pungky, humas Jtrab. Tapi kemudian nama tersebut diubah jadi Jeep Trail Blusukan dengan alasan kebanyakan membernya adalah pemilik jeep yang suka mengendarai trail.

Menurut Pungky, pengendara jeep biasanya latihan menguasai medan dengan trail lebih dahulu. Karena itulah mereka menggabung kedua kendaraan tersebut dalam satu wadah.
Pendirian Jtrab dilakukan di Jurang Jero pada 26 Juli 2006. Dalam deretan nama pendirinya terselip beberapa nama petinggi kepolisian.

Pada awal-awal berdirinya Jtrab memang banyak diikuti para pejabat dan anggota kepolisian di Jogja. Tak heran jika sejak pertama berdiri sampai sekarang, para penasihat Jtrab selalu berasal dari kepolisian. Seperti penasihat periode sekarang yang dipegang oleh Kapolres Sleman AKBP Drs. Sudarmanto.

Pada perjalanannya, member Jtrab semakin beragam latar belakangnya. Saat ini tercatat ada 60-an orang yang menjadi member. Sebagian besar member adalah pemilik jeep yang juga punya trail. Tapi Jtrab tidak membatasi keanggotaannya hanya bagi penyuka trail yang punya jeep saja.

“Siapa saja boleh gabung,” tandas Pungky. “Asal punya trail atau jeep, silakan bergabung dengan Jtrab.”

Jarang Ngetem
Tidak seperti komunitas lain, Jtrab tidak punya agenda rutin untuk berkumpul. Mereka juga tidak suka ngetem ramai-ramai di tempat-tempat umum. Kalau sekedar ingin berbincang-bincang masalah kendaraan, member bisa datang ke posko setiap saat.

“Kami tidak pernah kumpul-kumpul. Paling-paling ya kalau pas ada event, baru semuanya berkumpul,” jelas Januar.

Meski begitu, Jtrab selalu mengadakan acara touring paling tidak sebulan sekali. Kalau pengurus sudah menemukan tempat yang cocok untuk touring, maka member yang lain dikabari lewat SMS atau telepon.

“Setiap buat acara touring, teman-teman yang lain tinggal di-sms saja. Nanti langsung kumpul di tempat start,” kata Januar lagi.

Selain touring yang hanya diikuti member, Jtrab pernah pula mengadakan event yang boleh diikuti semua komunitas trail. Yang terbaru adalah event Merapi Adventure di bulan Mei 2008 yang sukses mengumpulkan lebih dari 400 peserta dari seluruh Jawa. Bulan ini Jtrab sedang merancang satu event dengan rute melintasi lima kabupaten se-Jogja.

Jtrab juga rajin mengikuti event-event yang diadakan komunitas trail lain, bahkan sampai ke luar kota. Seperti event Trabas Merdeka yang diadakan setiap tahun oleh komunitas trail di Bandung. Atau event Sabawana yang diselenggarakan komunitas trail Malang.

Untuk Refreshing
Ketika ditanya apa alasannya menyukai trail, Pungky mengatakan ia merasa paling puas jika bisa melewati medan-medan sulit. Selain itu, “Kita bisa mendapatkan view-view yang tidak semua orang bisa sampai ke sana,” tambahnya.

Melihat pemandangan alam sambil mengendarai trail diakui Pungky dapat memberikan nuansa tersendiri. Ia kemudian menggambarkan suasana saat berada di Gunung Gambar, Wonosari. Dari lokasi tersebut ia dapat melihat kota Klaten sampai Solo dari kejauhan.

“Sangat bagus sekali,” kata Pungky. “Tanpa trail mungkin saya tidak bisa sampai ke sana,” tambahnya.

Hal senada disampaikan Noval. Bapak yang masih aktif di kepolisian ini mengaku sudah menyukai trail sejak kelas dua SMA. Namun setelah mengalami kecelakaan di tahun 1989, ia kemudian beralih ke jeep.

Bila Anda ingin merasakan petualangan melintasi alam sambil menikmati pemandangan, Jtrab juga menyediakan jasa persewaan trail. Dengan biaya yang cukup terjangkau Anda akan diajak berkeliling medan-medan yang biasa dilalui rider trail selama seharian penuh.

Tertarik mencoba? Silakan datangi posko Jtrab yang terletak di Jl. Mrican Baru No. 1. (eda)

Jeep Trail Blusukan (Jtrab)
Jl.Mrican Baru No.1 Jogja
Telp./fax. : (0274) 520545
E-mail: jeeptrail88@gmail.com
Blog: http://jtrab.blogspot.com

Catatan: Liputan ini pernah dimuat di Harian Jogja edisi Minggu, 24 Mei 2009.
Foto: http://jtrab.multiply.com


05 Maret 2010

| | 0 komentar | Read More

Mencoba Kerupuk Wortel a la Zuni

KERUPUK merupakan makanan khas Indonesia. Bagi orang Indonesia, belum lengkap rasanya bila makan tanpa kerupuk. Karena itulah ada banyak macam kerupuk di seluruh penjuru tanah air, termasuk Jogja. Dan sepertinya varian kerupuk di Jogja bakal bertambah banyak dengan diproduksinya kerupuk wortel oleh Zuni Widiyanto.

Ya, kerupuk bermerek Setia Rasa tersebut adalah kerupuk yang dibuat dengan bahan baku wortel. Bila selama ini wortel hanya dikenal sebagai sayur-sayuran, maka Zuni secara kreatif mampu mengubahnya menjadi bahan pembuat kerupuk yang renyah.

Tentu tidak gampang menjadikan wortel yang kaya air menjadi bahan kerupuk. Zuni bercerita, ia butuh waktu satu bulan untuk melakukan eksperimen demi mencari campuran yang pas buat kerupuknya. Tidak hanya tepat komposisi bahannya, tapi juga kesesuaian antara rasa, aroma, dan warna.

Karena hanya bermodal nekat, Zuni benar-benar harus belajar dari pengalaman sendiri sebelum menemukan resep rahasianya. Awalnya ia membuat adonan dari wortel mentah yang langsung diblender, tapi ternyata aroma kerupuknya jadi tidak enak. Warnanya pun tidak menarik dipandang.

“Bau wortel itu kan gimana gitu, Mas. Jadi aroma kerupuknya juga jadi tidak enak seperti itu,” kenang Zuni sambil tersenyum saat ditemui di kediaman orang tuanya di Celeban, Umbulharjo.

Berangkat dari pengalaman itu, ia lalu merebus wortel sebelum diblender. Hasilnya, aroma wortel tidak lagi tercium pada kerupuk dan warnanya pun jadi lebih menarik. Sayang, paduan antara wortel, tepung terigu dan tepung tapioka ternyata masih kurang pas sehingga rasa kerupuk kurang sedap. Mau tak mau lelaki berusia 30 tahun ini harus memutar otak lagi.

Setelah berulangkali melakukan eksperimen dan mengalami kegagalan, akhirnya ayah satu anak ini berhasil membuat campuran yang pas untuk adonan kerupuknya. Warna, aroma, dan rasa kerupuk wortel buatannya sudah sesuai dengan apa yang ia inginkan dan layak dipasarkan.

Akhir Oktober 2008, mulailah Zuni memproduksi kerupuk wortelnya secara komersil. Tapi jangan bayangkan lulusan Psikologi Universitas Ahmad Dahlan ini memproduksi dalam jumlah besar. Karena terganjal modal dan belum menguasai jalur pemasaran secara baik, kerupuk wortel Setia Rasa hanya dibuat sebanyak 50 bungkus.

“Pemasarannya masih sulit. Saya belum berani membuat banyak kalau pemasarannya belum bagus,” kata Zuni. “Tidak semudah yang saya bayangkan, Mas. Walaupun hanya titip jual, pihak toko atau warung yang dititipi tidak langsung menerima. Ada yang harus menunggu dulu seminggu, ada yang lebih,” tambahnya.

Alhasil, sampai 6 bulan setelah pertama kali diluncurkan ke pasaran, kerupuk wortel Setia Rasa buatan Zuni baru terdistribusi ke tiga swalayan yang masing-masing terletak di daerah Gejayan dan Giwangan. Dari tiga tempat tersebut, penjualan Setia Rasa berkisar antara 20-40 bungkus setiap bulan.

Meski demikian, Zuni optimis usahanya bakal maju. Alasannya, saat ini semakin banyak orang yang beralih ke pola hidup sehat dengan menjadi vegetarian. Karena itu makanan-makanan berbahan dasar buah dan sayuran banyak dicari. Dan untuk kerupuk vegetarian, sampai saat ini hanya Setia Rasa yang memproduksinya.

Berawal dari Tomat
Niat Zuni membuat kerupuk wortel memang didasarkan pada fakta kian populernya gaya hidup vegetarian. Ia mengatakan, target utamanya adalah komunitas-komunitas vegetarian yang sudah banyak tersebar di Jogja.

Selain itu, Zuni juga berangan-angan menjadikan kerupuk wortel Setia Rasa sebagai satu ikon baru yang menjadi ciri khas Jogja selain makanan-makanan tradisional yang sudah lebih dulu terkenal selama ini.

Uniknya, saat ide membuat kerupuk vegetarian pertama kali muncul di kepalanya, Zuni justru belajar memproduksi kerupuk tomat. Beberapa hari ia habiskan untuk mempelajari cara-cara membuat kerupuk tomat dari berbagai referensi. Setelah itu ia mulai memproduksi meski hanya untuk coba-coba. Sayang, akhirnya kerupuk tomat tersebut gagal ia pasarkan.

“Bahan bakunya susah,” kata Zuni. “Untuk bahan membuat kerupuk, tomat yang dipakai harus tomat buah yang kadar airnya rendah. Sementara di Jogja yang banyak dijual tomat sayur,” tambahnya.

Daerah yang menjadi sentra produksi tomat buah adalah Bandung. Namun Zuni tak mau usahanya besar pasak daripada tiang. Mendatangkan tomat buah dari Bandung tentu butuh biaya banyak. Sementara ia sendiri masih terbentur masalah pemasaran yang berpengaruh besar pada penjualan. Maka sulung dari dua bersaudara ini menghentikan rencana kerupuk tomatnya dan beralih pada kerupuk wortel.

Menurut Zuni, sebenarnya wortel juga ada dua macam seperti tomat. Wortel buah rasanya lebih manis. Tapi untuk membuat kerupuk justru lebih baik menggunakan wortel sayur yang rasanya tidak terlalu manis. Dengan demikian tidak mempengaruhi rasa kerupuk.

“Kalau wortel ada banyak di Jogja. Mencarinya mudah, dan harganya juga murah,” katanya.

Ketika disinggung soal modal awal, sambil tersenyum Zuni berkata ia tak mengeluarkan uang banyak untuk memproduksi 50 bungkus pertamanya. “Tidak sampai Rp50.000,” katanya. Setelah jadi, kerupuk wortel tersebut ia lempar ke pasaran dengan harga mulai dari Rp2000/bungkus.

Masih Sederhana
Untuk membuat kerupuk wortelnya Zuni masih menggunakan proses sederhana. Semua ia kerjakan sendiri dengan peralatan seadanya yang tersedia di dapur rumahnya. Lagipula skala produksinya belum begitu besar sehingga ia belum membutuhkan peralatan baru.

Cara membuatnya juga terbilang sederhana. Mula-mula wortel diiris kecil-kecil lalu direbus sampai sekitar 15 menit. Setelah itu wortel ditiriskan dan diblender sampai halus. Selanjutnya beri bumbu pada wortel yang telah halus tersebut untuk kemudian dicampurkan pada tepung terigu dan tepung tapioka. Campur-campurkan semua bahan secara merata sampai menjadi seperti adonan kue.

Setelah itu, bentuk adonan menjadi bulatan-bulatan panjang, kemudian rebus dalam air mendidih selama sekitar 30 menit. Begitu adonan mengambang, angkat dan tiriskan sampai dingin. Terakhir, iris adonan tersebut tipis-tipis dan jemur di bawah terik matahari sampai kering.

Untuk membuat 50 bungkus kerupuk wortel, Zuni membutuhkan tepung terigu 5kg, tepung tapioka 10kg, dan wortel 5kg. Selain itu juga ada bahan-bahan tambahan seperti bawang merah, bawang putih, garam, dan penyedap rasa sebagai bumbunya.

Mulanya kerupuk wortel Setia Rasa dipasarkan dalam bentuk mentah. Namun atas saran salah satu swalayan yang ia titipi, Zuni kemudian memasarkannya dalam bentuk matang alias sudah digoreng. Ternyata kerupuk wortel versi matang tersebut lebih disukai pembeli. Ini terbukti dari angka penjualannya yang meningkat dibanding saat masih berbentuk kerupuk mentah.

“Sebelumnya hanya laku beberapa bungkus saja, tak sampai 20 bungkus sebulan,” cerita Zuni. Saat kerupuk wortel dijual dalam bentuk matang, penjualannya menjadi 2 kali lipat lebih banyak.

Meski mengalami peningkatan, namun Zuni menyadari jumlah tersebut masih terbilang kecil. “Sementara ini memang masih sedikit, Mas,” katanya. “Masalahnya ya itu, saya masih terkendala di pemasaran.”

Karena itulah Zuni merasa sangat senang jika ada yang berminat membantu memasarkan kerupuk wortel produksinya. Ke depan, dengan dukungan distribusi yang baik ia berharap dapat memproduksi dalam jumlah lebih besar. (eda)

Catatan: Liputan ini pernah dimuat di Harian Jogja edisi Minggu, 26 April 2009.

26 Februari 2010

| | 0 komentar | Read More

Sebarkan Virus Sepeda Lipat di Jogja

PEMANASAN global menjadi isu hangat belakangan ini. Beragam cara dilakukan untuk mengurangi perubahan iklim yang merugikan masa depan bumi tersebut. Mulai dari aksi-aksi berjangka panjang semisal penghijauan kembali hutan-hutan, sampai ke aksi sederhana namun efektif seperti bersepeda.

Tidak bisa dimungkiri lagi emisi gas buang dari kendaraan bermotor merupakan penyumbang terbesar bagi terjadinya pemanasan global. Karena itu sejumlah orang yang peduli terhadap isu ini ramai-ramai meninggalkan kendaraan bermotor dan beralih ke sepeda.

Contohnya para anggota komunitas Jogja Folding Bike (JFB). Mereka membiasakan diri memakai sepeda lipat dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Baik ke kantor, kampus, atau sekolah. Bahkan ada anggota yang sudah lebih setahun ini meninggalkan motor atau mobilnya dan memilih bersepeda ke mana-mana.

JFB bukan komunitas biasa. Komunitas yang didirikan pada 25 Januari 2009 ini khusus mewadahi para pengguna sepeda lipat di Jogja. Menurut Sri Kahana, ketua JFB sekaligus salah satu pendirinya, komunitas ini memiliki misi sederhana saja, yakni menyebarkan virus sepeda lipat di Jogja.

“Slogan kami ‘mari bersepeda’. Tujuannya adalah bagaimana agar sepeda dapat menjadi sarana transportasi yang digemari masyarakat,” kata Kahana saat ditemui Harian Jogja di kediamannya, Rabu (22/4) malam pekan lalu.

Meski terdengar sederhana, namun misi JFB sangatlah mulia. Menurut Kahana, ada banyak efek positif yang didapatkan dengan bersepeda. Di antaranya adalah sebagai sarana transportasi yang murah, menyehatkan, serta bebas polusi.

Bersepeda dapat mengurangi pencemaran udara. Dengan demikian efek pemanasan global juga turut berkurang. Karena itu JFB punya impian untuk menjadikan kegiatan bersepeda sebagai sebuah kebiasaan di masyarakat Jogja.

“Bayangkan saja kalau ada tiga atau empat orang bersepeda setiap hari, walaupun hanya sedikit tapi mudah-mudahan bisa mengurangi pencemaran asap knalpot. Pasti mengurangi,” ujar Kahana bersemangat.

Solusi Kemacetan
Melihat semakin padatnya kota Jogja, sepeda dapat pula dijadikan sebagai alat transportasi alternatif bebas macet. Terutama sepeda lipat yang dapat dilipat menjadi 3-5 bagian sehingga membuatnya mudah dibawa ke mana-mana.

“Begitu macet langsung saja buka selinya,” kata Kahana lagi. Karena itu, lelaki yang akrab dengan sepeda sejak kelas tiga SD ini lebih memilih bersepeda lipat ke kantor. Ia juga tak lupa membawa sepeda lipat kesayangannya tiap mendapat tugas keluar kota.

“Pernah saya terjebak macet sampai dua jam di daerah Grogol. Saya turun dan buka seli saya, beres!” kenang bapak yang masih tampak muda di usia hampir kepala lima ini.

Sepeda lipat jadi pilihan Kahana karena selain unik juga efektif. Uniknya, sepeda ini ukurannya lebih kecil dari sepeda biasa dan dapat dilipat menjadi lebih kecil lagi. Ditambah bobotnya yang hanya 11 kg, sepeda lipat sama sekali tidak merepotkan saat dibawa bepergian. Kemudian kalau penggunanya capek sepeda tinggal dilipat dan perjalanan bisa diteruskan dengan kendaraan umum.

Kemudahan ini membuat pengguna sepeda lipat semakin menjamur. Tak heran bila toko-toko penjual sepeda lipat di Jogja selalu kehabisan stok. Berapapun jumlah yang disediakan selalu saja habis diserbu pembeli.

Melihat animo yang demikian tinggi terhadap sepeda lipat, maka Kahana dan sejumlah rekannya berinisiatif mendirikan JFB. Anggota awalnya hanya enam orang. Setelah berjalan tiga bulan, jumlah anggotanya bertambah menjadi 26 orang. Sebagian besar anggota JFB adalah pekerja. Dari jumlah tersebut hanya 6 orang yang masih berstatus mahasiswa. Anggota tertua berumur 67 tahun, sedangkan yang termuda berumur 20 tahun.

“Sebenarnya pengguna sepeda lipat di Jogja banyak sekali. Kami sering lihat dokter-dokter di UGM pakai seli. Tapi yang mau bergabung di JFB baru 26 orang,” tambah Kahana. Ke depan, ia optimis hingga akhir tahun ini jumlah member JFB dapat bertambah hingga lebih dari 50 orang atau dua kali lipat jumlah yang sekarang.

Tidak Muluk-muluk
Merasa masih seumur jagung, JFB belum berani membuat program yang muluk-muluk. Kahana mengatakan, fokus utama komunitasnya sekarang ini adalah bagaimana ‘meracuni’ sebanyak mungkin orang untuk turut beralih ke sepeda. Untuk itu, komunitas ini rajin mempromosikan diri kepada masyarakat. Caranya dengan mengadakan touring.

JFB mempunyai jadwal touring sekali dalam dua pekan. Rute-rute yang pernah ditempuh antara lain keliling kota Jogja, pulang-pergi ke Imogiri, dan yang paling sering touring ke Pakem sekaligus berinteraksi dengan komunitas sepeda lain yang rutin berkumpul di Pakem tiap Minggu pagi.

Tidak hanya di wilayah Jogja, JFB juga mengadakan touring ke luar propinsi. Seperti touring ke Purworejo pada Minggu (26/4) kemarin. Tapi jangan bayangkan mereka bersepeda dari Jogja ke Purworejo pulang-pergi. Kahana dkk. berangkat ke Purworejo menumpang kereta. Sesampainya di Purworejo, barulah mereka bersepeda lipat keliling kota.

Agenda tetap JFB adalah berkumpul di bundaran UGM tiap Jumat sore. Tidak sekedar berkumpul-kumpul saja. Di sana mereka saling berbagi informasi mengenai sepeda lipat dan segala macam seluk-beluknya, membicarakan rencana touring, bahkan ada juga yang curhat tentang masalah pribadinya.

“Kumpul-kumpul seperti itu ada banyak manfaat positif bagi member. Contohnya, ada satu member yang diberi pekerjaan oleh member lainnya setelah curhat waktu kami kumpul,” tambah Kahana.

Terkadang dalam perkumpulan rutin itu turut pula bergabung orang-orang yang belum menjadi member JFB namun tertarik pada sepeda lipat. Tak jarang setelah banyak bertanya-tanya tentang sepeda lipat pada member JFB, orang-orang ini kemudian membeli sepeda lipat sendiri dan bergabung menjadi anggota.

Sadar bahwa komunitasnya hanya akan berkembang dengan dukungan masyarakat, ke depan JFB berencana mengadakan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi orang banyak. Seperti donor darah, kunjungan ke panti asuhan, dan panti jompo. Ini dimaksudkan agar di mata masyarakat tidak timbul kesan kalau JFB hanya bisa hura-hura saja. Di samping itu, dengan kegiatan tersebut JFB juga dapat memasyarakatkan sepeda lipat. (eda)

Catatan: Liputan ini pernah dimuat di Harian Jogja edisi Minggu, 3 Mei 2009.
Foto: http://jogjafoldingbike.web.id


19 Februari 2010

| | 2 komentar | Read More

Mengenang Kampung Halaman dengan Radio dan TV

BANYAKNYA pendatang di Jogja membuat kota ini kerap disebut sebagai miniatur Indonesia. Segala macam suku bangsa ada di sini. Mulai dari Aceh yang terletak di ujung paling utara, sampai Papua di ujung paling timur.

Hidup jauh dari kampung halaman bukanlah hal yang mudah. Tak jarang para perantau ini merindukan suasana seperti di kampung asal mereka. Beragam carapun dilakukan untuk dapat mengobati kerinduan pada tanah kelahiran. Salah satunya dengan mengikuti siaran-siaran berbahasa daerah mereka di radio atau televisi.

Setidaknya ada 2 stasiun radio dan 1 televisi lokal yang menyelenggarakan siaran berbahasa daerah selain bahasa Jawa di Jogja. Dua radio tersebut adalah RRI Programa 4 dan Retjo Buntung FM.

Di RRI Pro 4, setiap hari ada siaran berbahasa Batak Karo, Sunda, Minang, Banyumas, Barito dan bahasa-bahasa Indonesia timur yang disiarkan bergantian dari Senin hingga Sabtu. RRI Pro 4 sendiri merupakan programa khusus yang berformat budaya dan pendidikan, dan dibawakan dalam bahasa Jawa kromo inggil.

“Pro 4 siarannya dengan bahasa pengantar kromo inggil. Tapi setiap hari ada siaran berbahasa daerah lain selama satu jam. Namanya Musik Irama Daerah,” demikian penjelasan Slamet HS, Kepala Seksi Programa 4 RRI Yogyakarta, kepada Jogjapolitan.com di kantornya, Selasa (14/4) lalu.

Lebih lanjut Slamet mengatakan, acara yang disiarkan tiap pukul 15.00-16.00 itu mendapat respon cukup bagus dari pendengar. “Setiap kali siaran pasti pendengar yang masuk banyak. Cuma memang kalau dari segi sponsor masih kurang,” tambahnya.

Bila RRI memiliki Musik Irama Daerah, maka Retjo Buntung FM punya acara Dendang Melayu. Menurut Anna Media, Kepala Bagian Penyiaran Retjo Buntung FM, program Dendang Melayu khusus ditujukan bagi komunitas pengguna bahasa Melayu di Jogja.
“Di Jogja ini banyak pendatang dari daerah-daerah berbahasa Melayu,” kata Anna kepada Jogjapolitan.com saat ditemui di kantornya, Senin (13/4) lalu. “Karena itu Retjo Buntung menghadirkan acara yang dapat mengobati kerinduan mereka pada kampung halaman.”

Dendang Melayu disiarkan setiap Jumat malam pukul 22.00-24.00. Acara ini dibawakan dalam bahasa Melayu dan hanya memutar lagu-lagu Melayu. Selain itu, budaya dan kebiasaan orang Melayu juga dibahas di sepanjang acara.

“Contohnya saat bulan puasa. Kita angkat kebiasaan orang-orang Melayu selama berpuasa dan menjelang lebaran,” tambah Anna.

Awalnya Dendang Melayu diproduksi sebagai program Ramadhan yang hanya disiarkan selama bulan puasa. Hal ini dikarenakan orang Melayu dikenal kental dengan nuansa keislaman. Namun setelah melihat baiknya sambutan pendengar, acara berusia 7 tahun ini terus dilanjutkan sebagai program reguler Retjo Buntung.

Ranah Minang
Untuk siaran televisi, acara Ranah Minang yang ditayangkan RBTV menjadi satu-satunya siaran berbahasa daerah selain bahasa Jawa di Jogja. Bahkan menurut Azwar AN, pemilik Binuang Sakti Production House yang memproduksi Ranah Minang, acara ini merupakan satu-satunya program televisi berbahasa Minang di luar propinsi Sumatera Barat.

“Kalau siaran radio berbahasa Minang sudah banyak. Tapi siaran televisi berbahasa Minang ya hanya Ranah Minang ini,” kata pendiri Bengkel Teater yang juga mantan aktor dan sutradara beberapa film layar lebar ini.

Sesuai namanya, Ranah Minang adalah acara yang bernuansa budaya Minangkabau. Tayang setiap Rabu malam pukul 19.30-20.30, acara yang dibawakan dalam bahasa Minang ini menampilkan lagu-lagu dan kebudayaan Minang.

Menurut Azwar, tujuan awal dibuatnya Ranah Minang adalah untuk menjaga kelestarian kebudayaan Minang di kalangan warga asal Minang. Selain itu, acara tersebut juga diharapkan dapat mempererat hubungan antara sesama warga Minang yang ada di Jogja.

Dari sisi bisnis, acara yang telah berusia 4 tahun ini terbilang menjanjikan. Sebab menurut catatan Keluarga Besar Minangkabau Yogyakarta (KBMY), saat ini ada 5000 keluarga Minang yang hidup di Jogja. Sebagian besar dari jumlah tersebut adalah pengusaha, setidaknya pengusaha rumah makan Padang.

Dari merekalah Ranah Minang memperoleh pemasukan cukup signifikan berupa iklan. Bahkan sponsor utamanya juga orang Minang yang menjadi pemimpin di sebuah bank perkreditan rakyat (BPR) terkemuka di Jogja.

Laris-manisnya Ranah Minang dibenarkan Kumara Ari Yuana dari Departemen Pemasaran dan Promosi RBTV. “Binuang Sakti merupakan PH favorit RBTV, PH yang memberikan pemasukan cukup lumayan untuk RBTV,” katanya.

Sayangnya, baik Azwar maupun Kumara tidak mau menyebut berapa jumlah pemasukan yang dihasilkan dari Ranah Minang. Kumara hanya mengatakan, “Sponsornya bagus. Kebanyakan orang Minang.”

Di tempat terpisah, Azwar beralasan hal itu adalah rahasia perusahaan. “Lumayanlah. Yang penting bisa terus jalan,” kelit pemeran Gideon di film Janur Kuning itu. (eda)

Catatan: Liputan ini pernah dimuat di Harian Jogja edisi Minggu, 19 April 2009.